Aceh mempunyai baju tradisional yang dipengaruhi budaya Islam. Baju ini biasanya dipakai untuk acara pernikahan, upacara adat, dan hari spesial lainnya.
Nama baju tradisional Aceh berbeda antara laki – laki dan perempuan. Untuk laki laki, ialah Peukayan Linto Baro. Sedangkan untuk perempuan, ialah Peukayan Daro Baro.
– Peukayan Linto Baro.

Image by : merahputih.com
Peukayan Linto Baro ( pakaian adat untuk laki laki ). Baju tradisional ini mempunyai 3 bagian penting, dan 1 senjata tradisional.
1. Meukasah.
Meukasah merupakan pakaian yang ditenun menggunakan benang sutra. Baju Meukasah berwarna hitam, hal ini disebabkan karena masyarakat Aceh mempercayai warna hitam adalah lambang kebesaran.
2. Sileuweu.
Sileuweu atau yang disebut Cekak Musang ini merupakan celana panjang yang berwarna hitam untuk kaum laki – laki. Celana ini ditenun dari bahan kain katun yang melebar di bagian bawah.
3. Meukeutop.
Meukeutop adalah bagian dari penutup kepala yang berupa kopiah/peci memiliki bentuk lonjong ke atas.
4. Rencong.
Rencong atau Siwah merupakan senjata tradisional Aceh. Senjata belati yang berbentuk huruf L yang terbuat dari emas atau perak. Senjata ini digunakan sebagai penghias yang di selipkan di pinggang.
– Peukayan Daro Baro.
Peukayan Daro Baro, ialah pakaian tradisional Aceh yang dipergunakan untuk kaum wanita. Pakaian ini lebih cerah daripada pakaian tradisional kaum laki – laki. Bagian – bagian dari pakaian ini :
1. Baju Kurung.
Baju kurung berbentuk longgar dengan lengan panjang yang menutupi lekuk tubuh wanita, dan menutupi bagian pinggul yang merupakan aurat wanita.
2. Celana Cekak Musang.
Celana ini sama seperti celana bagi kaum laki – laki, akan tetapi warnanya lebih cerah.
3. Perhiasan.
Perhiasan ini merupakan alat pelengkap, seperti mahkota, anting, dan kalung.
Sumber : romadecade.org
